Annyeong Yoonaders ^^

Huahh…mian lama baru bisa ngpost lagi..biasalah tugas menumpuk jadi baru sempat posting ff. nah fanfic ini dadakan author buatnya. Cerita fanfic ini berdasarkan sebuah kisah nyata, yang di alami seorang gadis remaja asal Amerika, yang kini sudah tenang di alam surga. Nah pas baca ini, author lagi dengerin suara indahnya Sammy Simorangkir nyanyi lagu Kesedihanku, dan entah mengapa air mata author jatuh begitu saja dengan mudahnya. Mungkin faktor terbawa suasana. Selesai baca cerita itu, jadi keingat YoonHae, nah jadilah fanfic ini. Semoga kalian menyukainya ^^

Oh ya,, lanjutan ff Funny Valentine mungkin bakalan author publish besok..so, stay on this blog ^^

“Last Wish”

“good morning chagiya..” sapa Donghae pada kekasihnya yang masih tengah terbaring di atas tempat tidurnya.

Yoona memandangi Donghae, namja yang hampir 2 tahun terakhir setia berada di sampingnya, “mwo ?? kenapa oppa disini ?? oppa tidak ke sekolah ??” Tanya Yoona.

Donghae hanya tersenyum sambil membantu Yoona mengambil posisi duduk, “ masih ada waktu setengah jam, jadi oppa menyempatkan untuk melihat keadaanmu disini. Oppa rindu padamu, Yoong”

“aisshh oppa ini…” Yoona mencubit hidung kekasihnya, “rindu padaku ? tadi malam oppa baru saja datang mengunjungiku masa sudah rindu lagi ??”

“ mungkin ini yang di namakan cinta, Yoong. saranghe..”
Kilasan senyum Yoona yang masih tergores di bibir indah Yoona perlahan memudar, “ini salah oppa. Seharusnya oppa sekarang belajar melupakanku, supaya kelak nantinya oppa tidak sedih saat Tuhan memanggilku nanti”

“kenapa kau berkata seperti itu lagi, Chagi ?? yakinlah kau masih akan tetap hidup untuk oppa.”
“ sudah tidak keyakinan lagi buatku untuk hidup oppa, cepat atau lambat aku pasti akan pergi. Dokter juga sudah mengatakan hal itu kan ?? penyakitku bukan penyakit yang bisa mudah sembuh begitu saja, aku mengidap leukemia oppa, oppa tahukan hal itu”
“ terserah itu leukemia atau tumor otak sekalipun oppa tidak peduli, yang oppa inginkan hanya ingin terus berada di sampingmu Yoong” Donghae menggenggam erat tangan Yoona, menghibur hati kekasihnya yang tengah di rawat di sebuah rumah sakit karena Leukimia yang di idapnya, kekasihnya yang sedang dalam keadaan sekarat tapi masih mampu untuk berkomunikasi dengan baik.

Donghae lalu mengelus pipi lembut Yoona dan memberikan senyuman penyemangat untuknya, “ya sudah..kau tidak usah pikirkan hal itu lagi. Seharusnya kau senang karena orang-orang yang menyayangimu setia berada di sampingmu di saat-saat terakhirmu, Yoong”
Yoona mengangguk, “gomawo oppa..jeongmal gomawo..”
“ baiklah, sekarang oppa harus pergi sekolah. Kau baik-baik disini ya, Yoong. pulang sekolah oppa akan mampir lagi”
“ne” sebuah kecupan singkat mendarat di kening Yoona sebelum Donghae beranjak ke sekolah.

Tak lama setelah Donghae pergi, kedua orang tua Yoona datang menemani Yoona.
“Appa…Eomma…” sambut Yoona.
“annyeong Yoongi-ah..” ucap Appa dan Eomma bersamaan.
Eomma mengusap rambut Yoona, membelai serta merapikan rambut Yoona yang kian tipis. Sedangkan Appa mengganti bunga yang sudah mulai layu dari vasnya.
“anak eomma, kau semakin pucat Yoongiah” ucap lembut eomma. Dengan tangan kurusnya Yoona meraih tangan eommanya, menciumi tangan itu dan meletakannya di pipinya.
“eomma, kelak nanti kalau Tuhan memanggilku eomma tidak boleh sedih”

Dengan sekuat tenaga eomma menahan air matanya, agar tidak jatuh dan Yoona melihatnya. Eomma dan Appa mengunci rapat mulutnya, tidak tahu dan tidak mampu untuk berucap apa saat itu.
“aishh lihatlah, baru sekarang saja appa dan eomma sudah sedih, bagaimana nanti ??”
Appa menggelngkan kepalanya, “appa dan eomma akan selalu berada di sampingmu, Yoong anakku”

Yoona tersenyum, juga berusaha menyembunyikan kesedihannya. Sampai waktu siang, Appa dan Eomma Yoona kembali ke rumah untuk mengambil beberapa peralatan Yoona yang sudah mulai habis di rumah sakit.

Saat pulang sekolah, Donghae menepati janjinya, ia kembali datang ke rumah sakit tempat di mana Yoona di rawat. Di tangannya ia sudah menenteng sebuah kotak makan siang untuk Yoona.
“ ini, oppa bawakan makan siang untukmu. Kau pasti belum makan, kan ??”
Yoona mengangguk, “ne oppa”
Donghae lalu menyuapkan sesendok makanan untuk Yoona, “bagaimana rasanya ?? enak ??”
“ massita..jongmal massita..”
“baguslah, kalau begitu makan yang banyak ya..”
Yoona mengangguk lagi.

Tak berapa lama, Yoona telah menyelesaikan makanannya.
“ oppa, bagaimana keadaan sekolah ?? bagaimana kabar Yuri, Taeyeon, Sica, Seohyun, Leeteuk oppa, Siwon oppa, dan yang lainnya ??
“ mereka semua baik. Dan di sekolah sekarang sedang mempersiapkan sebuah pesta dansa tahun ini. Oh ya, oppa hampir lupa. Mereka tadi menitipkan salamnya padamu, mereka juga bilang maaf karena belum sempat mengunjungimu minggu ini” jelas Donghae
“ ahh..aku sangat merindukan mereka. Aku merindukan suasana sekolah..” mata Yoona lalu beralih pada sebuah kalender yang tak jauh dari tempat tidurnya.

Ya, memang sudah hampir setahun terakhir Yoona tidak lagi bersekolah karena kondisi sudah tidak memungkinkan lagi untuk mengikuti aktivitas sekolah yang cukup padat.
“oppa….”
“ ne ?”
“ boleh aku meminta satu permintaan padamu ?”
“ apa yang kau inginkan, Yoong ??”
“ aku ingin sekali melakukan sebuah dansa. Aku ingin pergi ke pesta dansa itu oppa”
“ mwo ?? tapi Yoong kondisimu tidak memungkinkan untuk pergi ke pesta dansa itu Yoong. bahkan sekarang kau berdiri pun sudah sangat lemah, apalagi harus melakukan sebuah dansa,”
“ kumohon oppa. Ini permintaan terakhirku sebelum aku pergi. Aku hanya ingin merasakan suasana pesta dansa, melakukan gerakan-gerakan dansa”
“baiklah,Yoong. oppa akan berusaha mewujudkannya untukmu,”

Donghae berpikir keras tentang keinginan Yoona, sesungguhnya ia khawatir dengan keadaan Yoona yang bisa jatuh begitu saja. Ia masih tidak mengerti mengapa Yoona ingin melakukan dansa, ia juga tidak yakin apa Yoona masih punya kekuatan untuk pergi ke pesta dansa itu.
“Donghae-ah…” panggil Leeteuk yag sedari tadi melihat Donghae yang murung.
“ ada apa denganmu oppa ??” Tanya Yuri, yang juga berada bersama Donghae dan Leeteuk serta beberapa teman lainnya.
“ Yoona baik-baik saja kan, Hae ??” Jessica ikut bertanya.
“chingudeul….” Akhirnya Donghae membuka suara.
“ nde ??”
“ bisakah kalian membantuku ??”
“ apa yang bisa kami lakukan untukmu, Hae-ah ??” ucap Sungmin.
“ aku tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Yoona bilang padaku dia ingin pergi ke pesta dansa, tapi kalian tahu kan bagaimana keadaannya. Kondisinya tidak memungkinkan untuk pergi ke tempat itu. Ottokhae ?? Yoona bilang sangat menginginkan hal ini. Ini permintaannya, dan aku takut aku tidak bisa mewujudkannya apalagi kalau benar ini adalah permintaan terakhirnya,”

Mengetahui keinginan Yoona, Donghae dan teman-teman lainnya berusaha untuk mewujudkan keinginan Yoona itu. Akhirnya mereka sepakat untuk mewujudkan keinginan Yoona itu menjadi kenyataan.

Sebuah pesta dansa yang meriah, yang rencananya akan di adakan di sekolah kini berubah tempat dan di adakan di rumah Yoona. Dengan penuh kebahagiaan dan rasa haru Yoona tersenyum senang mengetahui hal itu. Pesta dansa pun di mulai tepat pukul 7 malam. Yoona keluar dari kamarnya dengan di gandeng dengan Appanya. Wajahnya yang pucat di tutupi dengan polesan make up tipis yang tetap memperlihatkan wajah cantiknya, rambutnya yang selalu di biarkan lurus terurai kini di buat ikal, dengan di padukan dengan gaun biru cerah yang membalut tubuhnya. Lengkap sudah, Yoona tampak seperti dewi tercantik di malam itu, karena memang itulah keinginannya.
“ aigooo..sambutlah Ratu dansa kita mala mini, uri Yoona-neun yang tampil sangat cantik,” ucap Yuri yang bertindak sebagai MC acara itu.
“ ne, benar sekali. Dia sangat cantik apalagi setelah bergandengan dengan Pangeran Dansa kita mala mini, Lee Donghae” balas Tiffany.

Kedua orang itu tersenyum. Sebuah mahkota cantik di letakan di kepala Yoona, setelah ia di nobatkan sebagai Ratu semalam di pesta dansa itu. Seperti semua sisa tenaga Yoona berkumpul jadi satu hanya untuk pesta dansa itu. Yoona yang selalu terlihat lemas bahkan tidak mampu lagi untuk berdiri, tapi di malam pesta dansa itu ia tampak sehat, kuat, bahkan untuk berdiri dan melakukan berbagai gerakan dansa.
Alunan musik jazz mengiringi malam itu, kedua tangan Donghae di lingkarkan di pinggul Yoona, dan sebaliknya Yoona juga meletakan kedua tangannya di pundak Donghae, melakukan suatu gerakan dansa.
“kau bahagia ??” ucap Donghae
“ sangat bahagia..terima kasih oppa sudah mewujudkan permintaan terakhirku,”
“ terima kasihlah pada Tuhan yang sudah mengjinkanku untuk mewujudkan permintaan terakhirmu, Yoong,”
Yoona mengangguk, “ ne..ini memang kehendak Tuhan, dia telah memberikanku kekuatan yang sempurna untuk malam ini. Bahkan rasa sakitpun tidak terasa lagi. Tuhan benar-benar mengabulkan keinginanku yang terakhir, sebuah pesta dansa”
Donghae melepaskan tangannya lalu menarik Yoona ke dalam pelukannya. Membiarkan Yoona yang sudah mulai meneteskan air matanya menangis dalam pelukannya. Mendekapnya dengan erat.
“ gomawoo..jeongmal gomawo oppa..aku sangat bahagia..terima kasih untuk semuanya.. ini adalah hal yang paling berharga dalam hidupku, aku tidak akan pernah melupakannya, selamanya..”

Setelah hampir 4 jam pesta dansa itu berlangsung, gerakan dansa Yoona semakin melemah. Wajah pucatnya kini sudah bisa terlihat dengan jelas lagi.
“oppa, aku lelah..” bisik Yoona.
Donghae pun memutuskan untuk menghentikan dansa mereka memapah Yoona ke kamarnya. Seakan merasa permintaan terakhirnya sudah terpenuhi, Yoona kembali lemas.
Donghae membaringkan tubuh Yoona ke atas tempat tidur.
“gomawo oppa..”
“ ne, Yoong. sekarang istirahatlah, kau terlalu lelah untuk mala mini,”
Yoona menggeleng, “oppa, bisakah kau memanggilkan Appa dan Eomma kesini ??”
Donghae mengiyakan lalu memanggil kedua orang tua Yoona. Mereka bertiga pun kembali ke kamar itu, dan terkejut mendapati Yoona yang sudah menutup matanya.
“ Yoong..” nada suara Donghae bergetar, belum siap menerima kenyataan terburuk.
Orang tua Yoona juga tak kalah cemas, mereka lalu berjalan di samping tempat tidur Yoona, mengusap kepala anaknya itu.
“Yoong..bangunlah..” bisik eomma…

1..2..3…4..detik kemudian Yoona perlahan membuka matanya, mendapati ketiga orang yang paling berharga untuknya berada di sampingnya.

“eomaa..Appa..” ucap Yoona pelan.
“ ne sayang..kami disini..”
“ Donghae oppa…”
“ oppa disini Yoong,”
“ terima kasih untuk malam sempurna ini, aku sangat bahagia. Terima kasih juga kalian selalu setia berada di sampingku, kalian adalah orang paling berharga dalam hidupku,”
“Appa…Eomma..Oppa, permintaan terakhirku sudah menjadi kenyataan. Sekarang aku sudah bisa beristirahat dengan tenang. Sepertinya Tuhan sudah tidak sabar lagi menemuiku..aku akan segera pulang”
“ Yoong…”

Denga sisa tenanganya Yoona meraih tangan Eommanya, meletakannya di atas dadanya. Lalu, ia meraih tangan Appanya dan mengaitkan kedua tangan Appa dan Eommanya itu.
“eomma…aku akan pergi sebentar lagi. Kumohon jangan menangis..Appa, tolong jaga Eomma, jangan biarkan eomma sedih apalagi menangis, aku minta maaf karena tidak bisa menemani kalian lebih lama lagi, Tuhan benar-benar menyayangiku dan ingin segera memanggilku”

Kini tangan Donghae yang di genggamnya, “Oppa,, aku senang karena saat aku pergi kau masih setia berada disisiku. Ku mohon oppa juga jangan sedih. Aku titip eomma dan Appaku padamu, aku harap oppa bisa menjadi penggantiku untuk menemani dia. Setelah aku pergi, mereka pasti sangat kesepian. Oppa juga, jangan sedih. Oppa harus tetap melanjutkan hidup oppa tanpaku. Janji oppa ??”

Donghae mengangguk, “oppa janji Yoong.”
Yoona tersenyum, sebuah senyuman yang tulus dan murni, “sekali lagi terima kasih. aku tidak punya waktu lagi, aku hanya ingin mengatakan kalau aku sangat menyayangi kalian, aku mencinta kalian Appa, Eomma, Donghae oppa..jeongmal saranghae…”
Yoona akhirnya benar-benar menutup matanya, di samping orang-orang yang sangat berarti untuknya.

Eomma tidak bisa berhenti menangis, ia histeris dan Appa berusaha menenangkannya. Dan Donghae memeluk tubuh Yoona, meletakannya dalam pelukannya. Ia tidak bersuara, tetapi matanya sudah banjir dengan air mata.

“ ini benar-benar keinginan terakhirmu, Yoong. tapi kenapa ?? masih banyak keinginan lainnya, masih banyak yang belum kita lakukan, kita masih belum kencan, menikah, punya anak, menghabiskan waktu tua kita bersama, tapi mengapa kau hanya ingin melakukan dansa untuk yang terakhir kalinya ??” ucap Donghae di sela tangisnya.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~YoonHae~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Layaknya terpidana mati yang sebentar lagi akan di eksekusi mati, yang di beri beberapa permintaan sebelum hukum di jatuhkan. Terkadang tanpa kita tahu, keinginan seseorang yang sudah mengetahui ajalnya adalah keinginan terakkhir, sungguh suatu kebahagian tiada tara apabila kita dapat mewujudkan hal itu sebelum kita benar-benar pergi.

The End.

Otthe ?? bagaimana ?? singkat bangett yak ???
Hehe, mian. Coznya author bikinnya Cuma 2 jam lebih, dan idenya Cuma mentok sampe sini. Ini salah satu ff tercepat yang bisa author selesaiin hanya dalam waktu 2 jam lebih..haha
Author harap kalian bisa suka dengan cerita ini, sorry karena lagi-laginya autor buatnya ff sad lagi, soalnya paling mood kalau buat ff sad ending..
Ohhyaa,, jangan lupa tinggalkan komentar kalian..^^